Review Buku Muslimah Feminis karya Neng Dara Affiah

Data Buku
Judul​​: Muslimah Feminis: Penjelajahan
    Multi Identitas
Penulis ​: Neng Dara Affiah
Cetak​​: April 2009
Penerbit​: Nalar Jakarta
Tebal ​​: X + 122 Halaman
Pereview : Muhamad samsa sabillah

Muslimah Feminis : Penjelajahan Multi-identitas. Buku ini berisikan perjalan hidup seorang aktivis perempuan bernama Neng Dara Affiah yang lahir pada bulan april 1970. Ia memiliki latar belakang keluarga religius yang sangat kental dengan budaya muslim. Ibunya adalah seorang guru agama sekaligus kepala sekolah menengah agama islam (Tsanawiyah). Ayahnya adalah seorang pemimpin pesantren yang memiliki kemampuan membaca dan menguasai khazanah islam klasik dengan baik, seperti yang terdapat pada kitab kuning. Itulah salah satu alasan mengapa neneknya menjodohkan kedua orang tuanya. Selain itu, ayahnya juga merupakan pemimpin masyarakat yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) selama lebih dari dua puluh tahun, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Menjadi seorang muslimah adalah sebuah takdir. Menurutnya, ia tidak pernah memilih agama islam. Agama hadir dan melekat begitu saja sebagai identitasnya sejak lahir hingga saat ini. Kedua kakek buyutnya yang berasal dari ibu maupun ayah merupakan para ulama yang berpengaruh dalam mengajarkan ilmu-ilmu keislaman dilingkungannya masing-masing, sehingga menurun kepada orang tuanya hingga kepada dirinya.
Pada pendidikan tingkat dasar, ia belajar di sekolah dasar islam yang dikelola oleh keluarganya. Mata pelajaran yang paling dominan adalah ilmu-ilmu keislaman seperti Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ilmu Akhlak, Hadis dan Sejarah Islam. Selain itu kegemarannya terhadap membaca buku-buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Selain buku-buku, publikasi lain yang mempengaruhinya dalah majalah islam Panjimas. Didalamnya terdapat kolom-kolom yang ditulis intelektual moderen islam dan perdebatan mengenai pemikiran dan dunia islam seperti Nurcholish Madjid, Harun Nasution, Munawirsadzaly, dan lain-lain. Maka dari itu pada usia yang masih sangat belia, Neng Dara memiliki kecenderungan paham teologi Wahabi. Teologi ini menyerukan agar umat islam kembali kepada Alquran dan Sunnah serta menolak segala jenis yang dianggap bertentangan dengan islam, seperti tahlilan, ziarah kubur dan memuliakan guru-guru sufi atau ulama. Padahal keluarganya adalah keluarga santri dengan kultur NU yang sangat ketat dengan mazhab syafi’i dalam tradisi fiqih yang kuat dengan tradisi penghormatan terhadap ulama, ziarah kuburan para wali, ritual tujuh hari, empat puluh hari dan seratus hari kematian yang sangat bertentangan dengan paham Wahabi.
Setelah lulus dari sekolah dasar, ia melanjutkan sekolahnya ke pesantren Alquran di Serang. Disampig itu ia juga belajar di sekolah negeri. Sebagian dari pelajarnya aktif dalam suatu pengajian yang disebut “usroh”. Neng dara pun terlibat disana dan dibaiat untuk berjanji setia pada organisasi yang dilakukan pada malam hari dengan doktrin: Allah tujuan kami, Rasul tuntunan kami, Alquran syariat kami, Jihad jalan kami, mati syahid adalah cita-cita kami. Topik yang sering menjadi sorotan dalam pengajian ini adalah masalah negara. Dalam pandangan kelompok ini, negara yang tidak berdasarkan syariat islam adalah pemerintahan thagut atau pemerintahan setan. Penyelenggaraan pengajiannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena gerakan yang membincangkan politik, meski berlabel agama, dianggap subversif. Pemerintah pun tidak segan-segan untuk menciduknya ke penjara bagi mereka yang tidak sejalan.
Semenjak bergabung dengan kelompok “usroh” tersebut, perilaku Neng Dara merasa terbebani oleh agama, padahal di dalam Alquran terdapat ayat yang menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama. Ia pun merasa tidak nyaman terlebih lagi harus berbohong kepada ibu pengasuh pesantren tiap kali ingin pergi ke pengajian sehingga membuat ketegangan. Akhirnya ia pindah pesantren dengan beberapa alasan salah satunya karena ia merasa dirinya mulai tidak cocok dengan model pengajian “usroh” tersebut.
Akhirnya ia pindah ke sekolah formal negeri yang berada di lingkungan pesantren di Tasikmalaya. Pakaian Tradisional yang umum digunakan oleh para santri laki-laki maupun perempuan di pesantren ini adalah sarung. Bahkan ia belum pernah melihat sekalipun pimpinan pesantren mengenakan celana panjang, maupun dasi, kecuali saat ia menjadi pimpinan organisasi besar islam di Indonesia yang harus bertemu dengan presiden. Disini ia pun belajar kitab Ta’lim Muta’alim, suatu kitab yang mengajarkan tentang bagaimana adab sebagai ta’lim dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat dan bagaimana sikap murid terhadap guru. Akan tetapi setelah berkenalan dengan pandangan-pandangan islam modern, ia banyak tidak setuju dengan ajaran-ajaran yang termaktub dalam kitab tersebut, menurutnya ajaran tersebut membuat murid tidak berpikir kritis dan akan memiliki rasa tidak percaya diri karena memposisika dirinya selalu lebih rendah daripada gurunya. Meskipun demikian, aspek positif yang sangat membekas pada dirinya adalah pentingnya kesahajaan hidup, kesederhanaan, kerendahan hati dan kepekaan rasa.
Selepas dari pesantren ia memilih untuk melanjutkan kuliahnya di IAIN jakarta dengan jurusan perbandingan agama atas rekomendasi pamannya. Saat kuliah ia pun terombang ambing antara masuk ke HMI atau PMII yang berlatar belakang tradisional atau ke HMI yang berlatar belakang moderenis. Karena kegiatan PMII dilihatnya lebih bersifat simbolis-ritualis, sedangkan di HMI banyak kegiatan intelektualnya, ternyata ia memilih HMI.
Di jurusan perbandingan agama ia memperoleh beberapa mata kuliah yang harus diikuti, seperti Hinduisme, Budhisme, Kristologi, Konfusionisme, Sintoisme, dan lain-lain. Dari agama tersebut ia belajar kearifan hidup seperti yang disampaikan para Nabi dan para arif bijaksana yang memimpikan sebuah dunia yang lebih baik dan damai yang jauh dari kemurkaan, keserakahan dan konflik. Tetapi keindahan dan kebaikan ajaran agama-agama tersebut seringkali bersebrangan dalam realitas penganutnya.
Saat menjadi pembicara konferensi mengenai gerakan perempuan muda dalam akivitas lintas agama di Indonesia pada tahun 2000 di Finlanda. Ia memiliki pengalaman menjadi kaum minoritas. Selama disana ia bertemu dengan beberapa orang yang memiliki stigma bahwa islam identik dengan poligami dan menggunakan cadar untuk wanita. Selain itu ia merasa bahwa Indonesia dipandang sebagai negara yang biasa saja dan asing dalam bergaulan antarbangsa. Maka dari itu ia menegaskan pada diri sendiri untuk tidak melakukan stereotip-stereotip tertentu atas agama, ras, maupun bangsa dengan cara membuka mata dan hati dengan dialog yang tulus untuk saling mengenal, mendengar, mengetahui dan memahami.
Akan tetapi ia pernah dibuat terkesan oleh Amerika, saat menghadiri undangan untuk program “Ohio University Inter-Religious Dialogue and Exchange Project”. Disana kebebasan beragama telah terbentuk dengan sangat baik dan masyarakatnya secara dewasa menyikapi perbedaan tersebut karena Amerika secara tegas memisahkan kepentingan agama dengan negara. Pemahaman ini dikenal sebagai sekularisme.
Sejak kecil ia diperlakukan seperti anak gadis seutuhnya, dalam arti seperti mengerjaan pekerjaan rumah seperti ibunya dan memiliki keterbatasan waktu bermain pada malam hari. Berbeda dengan kakak laki-lakinya yang memiliki kebebasan yang lebih daripda dirinya. Tidak heran kakak laki-lakinya dikuliahkan ke Mesir agar dapat menimba ilmu yang tinggi disana. Berbeda dengan dirinya yang hanya dapat berkuliah di IAIN Jakarta. Tetapi ia tetap bersyukur. Karena walaupun memiliki keterbatasan, ia diberikan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap ilmu sehingga ia tidak pernah patah semangat untuk belajar. Dan ingin menunjukkan bahwa perempuanpun bisa memiliki kesetaraan yang sama dengan laki-laki.
Salah satu tokoh yang menginspirasi dirinya adalah neneknya, H. Masyitoh. Beliau adalah seorang muslimah feminis yang tidak pernah mengenal kata “Feminis” namun secara tidak sadar ia mempraktikan sikap feminis tersebut dalam kehidupan sehari-hari seperti kemandirian dan kemerdekaan atas dirinya. Maka dari itu, semenjak kuliah ia semakin rajin untuk mengikuti diskusi dengan LSM yang membahas mengenai perempuan. Bahan tidak jarang ia memberikan diskusi tentang kesetaraan gender dan keadilan atas hak-hak perempuan. Atas kegiatannya tersebut tidak jarang ada cacian yang menyudutkan Neng Dara karena terlalu berteori kebarat-baratan. Tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk selalu mengikuti diskusi-diskusi lainnya mengenai perempuan.
Kelebihan buku ini sangat ringan untuk pembaca yang masih awam terhadap budaya islam maupun feminis. Bahasa yang digunakan dapat dipahami dengan mudah. Selain itu hal yang membuat saya menyukai buku ini adalah di setiap bacaannya terselip ilmu pengetahuan baru tentang islam dan feminis yang sebelumnya tidak saya ketahui. Buku ini pun sangat inspiratif terlebih untuk pembaca awam seperti saya

Akan tetapi dalam buku ini, Neng Dara Affiah terlalu banyak membahas masa lalunya dari lahir hingga masa perguruan tingginya sementara itu kisah dirinya sebagai aktivis feminis terlalu singkat dan kurang detil, sehingga membuat para pembacanya ingin mengetahui lebih dalam mengenai kegiatan-kegiatan yang pernah ia lakukan sebagai aktivis feminis tersebut.

Comments